Politeknik NSC Surabaya

Kuliah, Kerja, Surabaya, Kerja kuliah, Kuliah Kerja

5.31.2016

Gains of Trade

Studi perdagangan dan keuangan internasional merupakan disiplin ilmu ekonomi seperti yang kita kenal saat ini. Sejarawan pemikir ekonomi sering menggambarkan esai "Dari Neraca Perdagangan" oleh filsuf Skotlandia David Hume sebagai eksposisi nyata pertama dari model ekonomi. Hume menerbitkan esainya tahun 1758, hampir 20 tahun sebelum temannya Adam Smith yang menerbitkan The Wealth of Nations. Namun studi ekonomi internasional belum pernah sama pentingnya seperti sekarang. Pada awal abad ke-21, negara-negara terkait lebih erat melalui perdagangan barang dan jasa, arus uang, dan investasi di negara masing-masing dari sebelumnya. Dalam ekonomi global, pembuat kebijakan dan pemimpin bisnis di setiap negara, sekarang harus memperhatikan perubahan ekonomi yang cepat di belahan dunia lain.

Kuliah, Kerja, Surabaya, Kerja kuliah, Kuliah Kerja
Ekonomi internasional menggunakan metode dasar analisis yang sama seperti cabang lain dari ilmu ekonomi, karena motif dan perilaku individu dalam perdagangan internasional adalah sama  dengan transaksi domestik. Subyek ekonomi internasional, terdiri dari isu-isu khusus dari interaksi ekonomi antar negara. Tujuh tema dari studi ekonomi internasional yaitu: (1) keuntungan dari perdagangan, (2) pola perdagangan, (3) proteksionisme, (4) neraca pembayaran, (5) penentuan nilai tukar, (6) koordinasi kebijakan internasional , dan (7) pasar modal internasional.

Tujuan yang paling penting dalam semua ekonomi internasional adalah bahwa ada keuntungan dari perdagangan-yaitu, ketika negara-negara menjual barang dan jasa satu sama lain, pertukaran ini hampir selalu saling menguntungkan mereka. Dua negara dapat melakukan perdagangan yang saling menguntungkan bahkan ketika salah satu dari mereka lebih efisien daripada yang lain dalam menghasilkan barang, dan ketika produsen di negara yang kurang efisien dapat bersaing hanya dengan membayar upah yang lebih rendah. Perdagangan juga memberikan manfaat bagi negara-negara yang mengekspor barang-barang yang memanfaatkan produksi dari sumber daya lokal yang melimpah, dan mengimpor barang-barang yang menggunakan sumber daya lokal yang langka. Perdagangan internasional juga mendorong negara-negara untuk mengkhususkan diri dalam memproduksi barang-barang tertentu yang memiliki efisiensi yang lebih besar.

Manfaat dari perdagangan internasional tidak hanya terbatas pada perdagangan barang nyata, migrasi internasional dan pinjaman internasional juga merupakan bentuk perdagangan yang saling menguntungkan, termasuk perdagangan tenaga kerja. Pertukaran aset internasional yang berisiko seperti saham dan obligasi dapat menguntungkan semua negara dengan memungkinkan setiap negara untuk melakukan diversifikasi kekayaan.

Meskipun negara-negara umumnya memperoleh keuntungan dari perdagangan internasional, namun perdagangan internasional juga bisa merugikan kelompok-kelompok ekonomi tertentu dalam sebuah negara. Perdagangan internasional akan memiliki efek yang kuat pada distribusi pendapatan. Dampak perdagangan pada distribusi pendapatan telah lama menjadi perhatian dari teori perdagangan internasional, yang menunjukkan bahwa:
Perdagangan internasional dapat mempengaruhi pemilik sumber daya yang yang bersaing dengan produ impor, misalnya, pemilik sumber daya tidak dapat menemukan pembeli alternatif lainnya. Contohnya, industri tenun menjadi kurang bersaing dengan impor tekstil, nelayan yang tidak laku hasil tangkapannya karena adanya seafood yang diimpor. Perdagangan juga dapat mengubah distribusi pendapatan antara kelompok-kelompok yang luas, seperti pekerja dan pemilik modal.

Sumber: Krugman, P.R, M. Obstfeld, and M.J. Melitz, 2012, International Economics: Theory and Policy

5.30.2016

PENTINGNYA PERDAGANGAN INTERNASIONAL DALAM EKONOMI GLOBAL

Dengan perdagangan internasional memungkinkan pabrik dan distributor untuk memperoleh produk, layanan, dan komponen yang diproduksi di luar negeri. Mereka membutuhkan barang dan jasa tersebut karena keuntungan biaya atau untuk belajar tentang metode teknis canggih yang digunakan di luar negeri; misalnya, metode yang membantu mengurangi biaya produksi pada harga yang lebih rendah dan pada gilirannya, mendorong lebih banyak konsumsi sehingga menghasilkan peningkatan keuntungan. Perdagangan juga memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan sumber daya yang tidak tersedia di dalam negeri. Selain menyediakan berbagai barang dan jasa bagi konsumen, perdagangan internasional juga akan meningkatkan pendapatan dan lapangan kerja.

Kuliah, Kerja, Surabaya, Kerja kuliah, Kuliah Kerja
Ekspor menciptakan lapangan kerja dengan upah yang lebih tinggi. Sebuah penelitian tentang upah dan perdagangan, menemukan korelasi positif yang kuat antara intensitas ekspor dan upah. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa sektor ekspor cenderung menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain. Hal ini juga konsisten dengan teori ekonomi, di mana suatu bangsa yang menikmati keunggulan komparatif pada industri mereka, pekerja cenderung lebih produktif dan karena itu menerima upah yang lebih tinggi.

Negara kecil cenderung lebih bergantung pada perdagangan internasional daripada yang lebih besar karena mereka kurang mampu memproduksi semua yang mereka butuhkan. Negara yang lebih besar (dalam hal populasi) mengimpor barang lebih sedikit karena negara-negara tersebut cenderung memiliki diversifikasi ekonomi yang memungkinkan mereka untuk menghasilkan sebagian besar kebutuhan mereka sendiri.

Saat ini, integrasi ekonomi dunia didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi serta kebijakan pemerintah untuk mengurangi hambatan terhadap aliran perdagangan dan arus modal. Integrasi ini tumbuh dari negara-negara yang telah mengintensifkan tekanan kompetitif karena negara memiliki akses yang sama terhadap pengetahuan dan teknologi. Pemikiran tradisional tentang keunggulan komparatif tidak tepat lagi sesuai dengan pola produksi dan perdagangan saat ini.

Jadi, manfaat utama dari perdagangan internasional adalah untuk memperoleh berbagai barang dan jasa, untuk mengurangi biaya produksi, meningkatkan pendapatan dan lapangan kerja, untuk belajar tentang metode teknis canggih yang digunakan di luar negeri, dan untuk mengamankan bahan baku.

Penentu utama ekspor yaitu akses transportasi, pemasaran, dan jasa lainnya; nilai tukar; dan perdagangan pemerintah dan kebijakan nilai tukar. Sedangkan penentu utama dari impor yaitu pendapatan per kapita, harga impor, nilai tukar, perdagangan pemerintah dan kebijakan nilai tukar, dan ketersediaan valuta asing.

5.27.2016

The Uruguay Round dan WTO

Pada tahun 1982, Amerika Serikat memprakarsai usulan untuk memulai babak baru perundingan GATT. Alasan utama di balik inisiatif AS yaitu: (1) untuk melawan tekanan domestik akibat nilai dolar yang kuat dan meningkatnya defisit perdagangan, (2) untuk meningkatkan akses pasar bagi produk AS dengan mengurangi tarif yang ada dan hambatan nontarif untuk perdagangan, (3) untuk mengatasi penurunan kepercayaan terhadap sistem perdagangan multilateral, (4) untuk memperluas cakupan GATT ke daerah-daerah penting seperti layanan, kekayaan intelektual, dan investasi, dan (5) untuk mendorong negara-negara berkembang agar lebih efektif dalam sistem perdagangan internasional. Meskipun banyak negara berkembang yang awalnya enggan, namun upaya upaya tersebut menghasilkan negosiasi perdagangan yang sukses (Putaran Uruguay) pada tahun 1994. Hasil Uruguay Round dapat dilihat pada gambar berikut.


Trade Liberalization

Kemajuan yang signifikan dihasilkan untuk mengurangi hambatan perdagangan di bidang pertanian dan tekstil yang telah lama resisten terhadap reformasi. Pengurangan tarif sekitar 40 persen dapat dicapai. Perjanjian tersebut juga membuka akses ke berbagai kontrak pemerintah (Perjanjian Pengadaan Pemerintah). Hal ini juga ditujukan untuk liberalisasi sektor tekstil dan pakaian jadi pada akhir 2004. Kuota tekstil telah dihapus kecuali untuk pengamanan dalam melindungi peningkatan mendadak dalam impor.

Trade Rules

Putaran Uruguay menambahkan aturan baru yang berkaitan dengan praktek-praktek perdagangan yang tidak adil (dumping, subsidi) dan penggunaan pengamanan impor.

New Issues

Perjanjian tersebut memperluas cakupan dari GATT untuk memasukkan bidang-bidang seperti perdagangan jasa, TRIPs, dan TRIMs. GATT menetapkan aturan untuk meliberalisasi perdagangan jasa, yang pada tahun 2002 diperkirakan hampir $ 1.6 trillion (Wild, Wild, dan Han, 2006). Perjanjian TRIPs menetapkan disiplin perdagangan baru yang berkaitan dengan perlindungan dan penegakan hak kekayaan intelektual. TRIMs memfasilitasi untuk penghapusan persyaratan yang mendistorsi perdagangan investasi seperti konten lokal, pembatasan kepemilikan, atau ekspor saham tertentu dari produksi dalam negeri.

Institutional Reforms

Di bidang reformasi kelembagaan, Putaran Uruguay memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa multilateral dan mendirikan sebuah lembaga internasional yang baru dan permanen, Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization = WTO), yang bertanggung jawab untuk mengatur perilaku hubungan perdagangan di antara anggotanya. Prosedur penyelesaian sengketa baru dilembagakan misalnya prosedur banding, pengambilan keputusan yang dipercepat, dan mendorong kepatuhan dengan keputusan GATT. Anggota WTO diwajibkan untuk mematuhi aturan GATT serta berbagai perjanjian harus dinegosiasikan di bawah naungan GATT.

Sumber: Seyoum, B., 2009, Export-Import Theory, Practice, and Procedures, Routledge, New York and London

5.21.2016

GATT dan WTO

Persetujuan Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT) didirikan pada tahun 1945 sebagai kesepakatan sementara sambil menunggu pembentukan Organisasi Perdagangan Internasional (ITO). Rancangan piagam ITO, yang merupakan hasil dari negosiasi perdagangan pada Konferensi Havana tahun 1948, tidak disepakati karena Kongres AS tidak menyetujui. Negara-negara lain juga menolak melanjutkan ITO jika tanpa partisipasi dari Amerika Serikat. Oleh karena itu, GATT berusaha mengisi kekosongan sebagai organisasi perdagangan de facto, dengan kode etik untuk perdagangan internasional meskipun belum ada dasar konstitusi  yang dirancang untuk mengatur kegiatan dan prosedur internasional. GATT, dalam teori, bukanlah "organisasi," dan negara-negara yang berpartisipasi disebut "pihak kontraktor" atau Contracting Practices (CP) dan bukan anggota (Jackson, 1992; Hoekman dan Kostecki, 1995).


kuliah fleksibel, kerja, murah, surabaya

Sejak awal, GATT telah menggunakan kebijakan tertentu untuk mengurangi hambatan perdagangan antara pihak kontraktor (CP):

  • Non-diskriminasi: Semua CP harus diperlakukan dengan cara yang sama sehubungan dengan bea dan biaya ekspor-impor. Berkaitan dengan perlakuan yang paling diinginkan oleh beberapa negara, masing-masing CP harus memberikan kepada CP lain perlakuan tarif produk impor dan ekspor yang paling menguntungkan.dalam bentuk diantaranya seperti daerah perdagangan bebas, serikat pabean, atau pengaturan preferensial lainnya dalam mendukung negara-negara berkembang. Ketika impor telah memenuhi persyaratan bea cukai, CP diperlukan untuk memperlakukan impor asing dengan cara yang sama dengan produk dalam negeri (standar perlakuan nasional).
  • Liberalisasi perdagangan: GATT telah menjadi forum penting untuk negosiasi perdagangan. GATT telah memfasilitasi konferensi periodik antara CP untuk mengurangi hambatan perdagangan. Putaran Uruguay (1986-1993) melahirkan pembentukan organisasi perdagangan yang permanen yaitu World Trade Organization (WTO). Putaran terbaru (Putaran Doha) berharap untuk mencapai kesepakatan tentang distorsi perdagangan lainnya, seperti subsidi pertanian dan hambatan perdagangan yang dikenakan oleh negara-negara berkembang pada impor barang-barang manufaktur.
  • Penyelesaian sengketa perdagangan: GATT / WTO telah memainkan peran penting dalam menyelesaikan sengketa perdagangan antara CP. Dalam kasus-kasus tertentu di mana para pihak tidak mengikuti rekomendasi GATT, itu akan mengakibatkan kerugian perdagangan. Adalah wajar untuk menyatakan bahwa keberadaan GATT / WTO telah menjadi penghalang terjadinya perang perdagangan antara negara-negara.
  • Perdagangan barang: Aturan GATT berlaku untuk semua produk baik yang diimpor dan diekspor, meskipun sebagian besar aturan lebih relevan dengan impor. Aturan dirancang terutama untuk mengatur tarif dan hambatan terkait dengan impor seperti kuota, pajak-pajak internal, peraturan yang diskriminatif, subsidi, dumping, prosedur kepabeanan diskriminatif, dan hambatan nontarif lainnya. Putaran Uruguay (1994) menghasilkan kesepakatan umum baru pada perdagangan jasa, aspek yang terkait dengan perdagangan kekayaan intelektual (Trade-Related Aspects of Intellectual Property / TRIPs) dan langkah-langkah investasi traderelated (Trade Related Investment Measures/TRIMs). Dengan demikian, GATT telah berusaha untuk mengurangi hambatan perdagangan jasa, investasi, dan untuk melindungi kekayaan intelektual (Collins dan Bosworth, 1995).

Sumber: Belay Seyoum, 2009, Export-Import Theory, Practices, and Procedures

5.20.2016

Kegiatan Kepabeanan di Bidang Ekspor

Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang keluar daerah pabean sesuai dengan UU Kepabeanan

Dasar Hukum:
  • Undang-undang No.17 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-Undang No.10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan
  • Peraturan Menteri Keuangan Nomor 145/PMK.04/2007 tentang Ketentuan Kepabeanan di Bidang Ekspor
  • Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-40/BC/2008 jo. P-06/BC/2009 jo. P-30/BC/2009 jo. P-27/BC/2010 tentang Tata Laksana Kepabeanan di Bidang Ekspor
  • Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-41/BC/2008  tentang Pemberitahuan Pabean Ekspor

Pengertian Ekspor:

  • Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.
  • Barang ekspor adalah barang yang dikeluarkan dari daerah pabean.
  • Eksportir adalah orang yang melakukan kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.
  • Pemberitahuan pabean ekspor adalah pernyataan yang dibuat oleh orang dalam rangka melaksanakan kewajiban kepabeanan dibidang ekspor dalam bentuk tulisan di atas formulir atau data elektronik. Bentuk dan isi pemberitahuan pabean ekspor ditetapkan oleh Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
  • Nota Pelayanan Ekspor yang selanjutnya disingkat dengan NPE adalah nota yang diterbitkan oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen Ekspor atau Sistem Komputer Pelayanan atas PEB yang disampaikan, untuk melindungi pemasukan barang yang akan diekspor ke Kawasan Pabean dan/atau pemuatannya ke sarana pengangkut.
  • Kantor Pabean adalah Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean.
  • Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Prosedur Kepabeanan Ekspor:

  • Eksportir wajib memberitahukan barang yang akan diekspor ke kantor pabean pemuatan dengan menggunakan PEB disertai Dokumen Pelengkap Pabean.
  • PEB disampaikan paling cepat 7 hari sebelum tanggal perkiraan ekspor dan paling lambat sebelum barang ekspor masuk Kawasan Pabean
  • Dokumen PelengkapPabean:
          - Invoice dan Packing List
          - Bukti Bayar PNBP
          - Bukti Bayar Bea Keluar (dalam hal barang ekspor dikenai Bea Keluar)
          - Dokumen dari intansi teknis terkait (dalam hal barang ekspor terkena ketentuan larangan
            dan/atau pembatasan)

  • Penyampaian PEB dapat dilakukan oleh eksportir atau dikuasakan kepada Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK)
  • Pada Kantor Pabean yang sudah menerapkan sistem PDE (Pertukaran Data Elektronik) kepabeanan, eksportir/PPJK wajib menyampaikan PEB dengan menggunakan sistem PDE Kepabeanan

Sanksi:

  • Mengekspor tanpa menyerahkan pemberitahuan pabean dipidana penjara paling singkat 1 tahun paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit lima puluh juta rupiah paling banyak lima miliar rupiah.
  • Menyampaikan pemberitahuan pabean yang tidak benar, palsu atau dipalsukan dipidana penjara paling singkat 2 tahun paling lama 8 tahun dan pidana denda paling sedikit seratus juta rupiah paling banyak lima miliar rupiah.
  • Tidak menyampaikan atau terlambat menyampaikan pembatalan ekspornya dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar lima juta rupiah.
  • Salah memberitahukan jenis dan/atau jumlah barang dikenai sanksi administrasi berupa denda paling sedikit 100% dari pungutan negara di bidang ekspor yang kurang dibayar dan paling banyak1.000% dari pungutan negara di bidang ekspor yang kurang dibayar.

KETERANGAN:

1.    Eksportir/PPJK menyampaikan PEB disertai dokumen pelengkap pabean ke Kantor Pabean di pelabuhan muat ekspor.
2.   Pengecekan dokumen meliputi:
      a.   Ada atau tidak blokir eksportir/PPJK
      b.   Dokumen pelengkap pabean
      c.   Kesesuaian PEB dengan dokumen pelengkap, bukti bayar PNBP, bukti bayar Bea Keluar
            (dalam hal terkena Bea Keluar):
            1)   Jika lengkap dan sesuai dilanjutkan pengecekan pemenuhan persyaratan (lartas)
            2)  Jika tidak lengkap dan tidak sesuai diterbitkan Nota Pemberitahuan Penolakan (NPP)
 3.   Penelitian dokumen selesai dilanjutkan dengan pengecekan pemenuhan persyaratan larangan dan/atau pembatasan (lartas):
      a.   Jika sudah dipenuhi diterbitkan NPE
      b.   Jika belum dipenuhi diterbitkan Nota Pemberitahuan Persyaratan Dokumen (NPPD)
4.   Penelitian dokumen dan ketentuan lartas selesai dilanjutkan dengan pengecekan perlu/tidak dilakukan pemeriksaan fisik:
     a.   Jika tidak dilakukan pemeriksaan fisik diterbitkan NPE
     b.   Jika dilakukan pemeriksaan fisik diterbitkan Pemberitahuan Pemeriksaan Barang (PPB)
5.   Pemeriksaan fisik barang ekspor:
     a.   Jika sesuai diterbitkan NPE
     b.   Jika tidak sesuai, barang disegel dan diteliti lebih lanjut oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen
           Ekspor (PPDE)

5.19.2016

Incoterm 2010

Incoterms atau International Commercial Terms adalah istilah-istilah (seperangkat kode tiga huruf) yang digunakan dalam perdagangan internasional untuk mengatur agar tidak terjadi kesalahan interpretasi dalam pembuatan kontrak, dalam Incoterms ini diatur syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengiriman atau penyerahan barang.


Kelompok E

- EXW = Ex Works
Penjual menyerahkan barang yang belum mendapat izin ekspor di kediamannya atau di tempat lain yang ditentukan (sebutkan nama tempat)

Kelompok F

- FCA = Free Carrier
Penjual menyerahkan barang yang sudah mendapat izin ekspor kepada pengangkut yang ditunjuk pembeli di tempat tujuan (sebutkan nama tempat)

- FAS = Free Alongside Ship
Penjual menyerahkan barang yang sudah mendapat izin ekspor di samping kapal di pelabuhan tujuan (sebutkan nama pelabuhan pengapalan)

- FOB = Free on Board
Penjual menyerahkan barang melewati pagar kapal di pelabuhan pengapalan yang disebut, barang sudah clear for export (sebutkan nama pelabuhan pengapalan)

Kelompok C

- CFR = Cost and Freight
Penjual menyerahkan barang melewati pagar kapal di pelabuhan pengapalan yang disebut, barang sudah clear for export dan biaya angkut ke pelabuhan tujuan sudah ditanggung penjual (sebutkan nama pelabuhan tujuan)

- CIF = Cost, Insurance and Freight
Sama dengan CFR tetapi penjual menanggung asuransi dan membayar premi (sebutkan nama pelabuhan tujuan)

- CPT = Carriage Paid To
Mirip dengan CFR tapi barang diangkut ke tempat tujuan tertentu (sebutkan nama tempat tujuan)

- CIP = Carriage and Insurance Paid to
Hampir sama dengan CPT tetapi penjual menutup asuransi terhadap risiko kerusakan selama perjalanan (sebutkan nama tempat tujuan)

Kelompok D

- DAF = Delivered At Frontier
Penjual menyerahkan barang di tempat pada wilayah perbatasan tetapi belum memasuki wilayah pabean negara yang dituju (sebutkan nama tujuan)

- DES = Delivered at Ship
Penjual menyerahkan barang kepada pembeli di atas kapal, penjual menanggung risiko dan biaya sampai sesaat sebelum dibongkar (sebutkan nama pelabuhan tujuan)

- DEQ = Delivered Ex Quay
Penjual menyerahkan barang kepada pembeli di atas dermaga pelabuhan tujuan, uncleared for import (sebutkan nama pelabuhan tujuan)

- DDU = Delivered Duty Unpaid
Penjual menyerahkan barang yang belum diurus izin impornya dan belum dibongkar di tempat tujuan yang merupakan kewenangan pembeli , uncleared for import (sebutkan nama tempat tujuan)

- DDP = Delivered Duty Paid
Sama dengan DDU tetapi formalitas impor sudah diurus

5.18.2016

Tips jika ingin Melakukan Ekspor

1. Market Research
- Tentukan prioritas Negara tujuan
Langkah ini bisa dilakukan dengan cara mengumpulkan data Negara tujuan ekspor, seperti data statistik, demografi, atau pesaing-pesaing lain di Negara tersebut

- Lakukan market access requirement
Setelah itu telusuri regulasi-regulasi yang ada di Negara tersebut, sehingga dapat diketahui kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi untuk masuk ke Negara tersebut. Dari market research ini akan keluar sebuah strategi untuk memasuki Negara tertentu

2. Promosi
Promosi dapat dilakukan melalui:

- Website
Membuat website sebagai catalog virtual yang dapat dilihat oleh calon buyer

- E-mail/Inquiry
Mengirimkan e-mail perkenalan kepada kedutaan-kedutaan, mengirimkan inquiry kepada Ditjen PEN atau media lain seperti penyelenggara seminar ekspor

- Pameran
Memilih pameran yang sesuai dan mempersiapkan materi promosi yang akan disajikan dalam pameran

3. Pemberian Informasi
Informasi yang diberikan kepada buyer harus benar dan sesuai dengan apa yang dijanjikan, misal tentang kapasitas produksi, delivery time, proses produksi atau sertifikasi

4. Persiapkan Produk
Eksportir harus mengenali produknya sebaik mungkin, seperti standar mutunya, karakterisitik produk (apakah produk tersebut tersedia pada musim tertentu saja atau apakah produk tersebut memerlukan perlakuan khusus), kemasan, kapasitas produksi serta pengujian produk tersebut, apakah sudah teruji di pasar local atau pasar ekspor lainnya

5. Buat Penawaran yang menarik
Penawaran ini harus menimbulkan minat beli dari calon buyer, salah satu caranya adalah dengan memberikan penawaran yang representatif beserta keunggulan produknya, disertai dengan contoh gambar atau sertifikat yang dimiliki

Jika calon importir tertarik terhadap penawaran kita maka calon importir akan mengirimkan ordersheet yang dapat juga berfungsi sebagai sales contract.
Sumber: Sukses dalam Ekspor

5.16.2016

Bagaimana Seharusnya Memecat Karyawan

Seringkali dalam situasi tertentu perusahaan melakukan pemecatan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Penyebab pemecatan atau PHK dapat bermacam-macam diantaranya pelanggaran peraturan dan kode etik kerja, kesehatan karyawan, kinerja karyawan, dan juga kondisi keuangan perusahaan.


bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Terdapat berbagai macam prosedur pemecatan yang dimiliki perusahaan, namun pada dasarnya sebagian besar prosedur tersebut dibuat untuk melindungi perusahaan dari tuntutan hukum di kemudian hari, dan bahkan ada juga yang ditujukan untuk mengurangi pesangon.
Jika kita pandang dari sisi lain dimana karyawan merupakan manusia yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya dengan bekerja, maka pemecatan merupakan hal yang paling tidak diinginkan oleh karyawan, apalagi ditengah situasi kesempatan kerja atau lapangan kerja yang kurang.  Dapat dikatakan bahwa pemecatan dapat mengakibatkan trauma pada diri seseorang.
Berdasarkan hal tersebut alangkah baiknya jika dalam melakukan pemecatan (jika terpaksa), disarankan perusahaan mempertimbangkan sisi atau isu lain terutama isu yang berkaitan dengan dampak pemecatan terhadap kehidupan seseorang. Rekomendasi yang bisa dipertimbangkan bagi perusahaan adalah bagaimana cara meminimalisir trauma yang dialami seseorang akibat pemecatan. Alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan penjelasan se-realistis mungkin, menunjukkan emphaty, memberikan motivasi, dan jika memungkinkan memberikan saran-saran yang berguna bagi karyawan dalam menghadapi pemecatan tersebut. Hal ini tidak mudah dilakukan terutama oleh HRD perusahaan dan bahkan mungkin tidak akan diterima secara positif oleh karyawan yang dipecat, namun jika ini dilakukan paling tidak akan menimbulkan perasaan nyaman bagi karyawan lainnya bahwa perusahaan via HRD nya memiliki kepedulian terhadap karyawannya meskipun kepada karyawan yang dipecat.

5.13.2016

Shipping Document Negotiation Process

Proses ini adalah proses penguangan dokumen pengapalan bagi eksportir dan merupakan proses untuk claim barang yang telah dibayar bagi Importir.

  1. Setelah menerima B/L dari shipping Company, Eksportir akan menyiapkan semua keperluan dokumen lain yang diisyaratkan dalam L/C seperti Invoice, packing list, sertifikasi mutu, Surat Keterangan Negara Asal (SKA) dan lain sebagainya. Semua dokumen tersebut akan diserahkan kepada negotiating Bank, dalam hal ini advising Bank, yang ditentukan dalam L/C untuk memeroleh pembayaran atas L/C
  2. Negotiating Bank akan memeriksa kelengkapan dan keakuratan dokumen pengapalan yang dikirimkan eksportir, jika cocok dengan yang diisyaratkan L/C maka negotiating Bank akan melakukan pembayaran sesuai tagihan eksportir dari dana L/C yang tersedia
  3. Negotiating Bank akan mengirimkan dokumen pengapalan kepada opening Bank untuk mendapatkan reimbursement atas pembayaran yang dia lakukan kepada Eksportir
  4. Opening Bank, akan memeriksa kelengkapan dan keakuratan dokumen pengapalan, jika cocok dengan yang diisyaratkan L/C maka opening Bank akan memberikan pelunasan pembayaran (reimbursement) kepada negotiating Bank
  5. Opening Bank selanjutnya memberitahukan penerimaan dokumen pengapalan kepada Importir. Importir akan menyelesaikan pelunasan dokumen itu untuk mendapatkan dokumen pengapalan yang berfungsi untuk mengambil barang pesanan dari shipping agent dan bea cukai setempat
Sumber: Empat Tahapan Utama dalam Ekspor Menggunakan LC


5.12.2016

Cargo Shipment Process

Output penting dari proses ini adalah dokumen pengapalan yang merupakan bukti bahwa eksportir telah mengirimkan barang yang dipesan Importir sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam L/C.

Tahapan cargo shipment process adalah sebagai berikut:
  1. Eksportir akan menerima L/C advice sebagai acuan untuk mengirimkan barang dan saat ini eksportir akan melakukan shipment booking kepada shipping company sesuai dengan term yang disebutkan dalam sales contract. Setelah itu eksportir harus mengurus kewajiban Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) di Bea Cukai di pelabuhan muat. Serta hal lain seperti pembayaran pajak ekspor (PE) dan Pajak Ekspor Tambahan (PET) di advising Bank
  2. Shipping Company akan memuat barang dan menyerahkan bukti penerimaan barang, kontrak angkutan, bukti kepemilikan barang (bill of lading) serta dokumen pengapalan lainnya jika ada kepada eksportir, kemudian eksportir akan mengirimkannya kepada advising Bank untuk dikirimkan ke opening Bank
  3. Shipping Company akan mengangkut barang tersebut ke pelabuhan tujuan yang disebutkan dalam Bill of Lading (B/L)
  4. Importir akan menerima dokumen pengapalan jika kewajiban pembayaran kepada opening Bank sudah dilakukan. Selanjutnya dokumen pengapalan ini digunakan untuk mengurus import clearance dengan pihak bea cukai di pelabuhan dan untuk mengambil muatan di shipping Company yang memuat barang yang dipesan
  5. Shipping Agent akan menyerahkan barang kepada Importir jika biaya jasa shipping agent telah dilunasi


5.11.2016

L/C Opening Process

Letter of credit (L/C) adalah Jaminan dari bank penerbit kepada eksportir sesuai dengan instruksi dari importer untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu dengan jangka waktu tertentu atas dasar penyerahan dokumen yang diminta importer.

Letter of Credit telah menjadi landasan perdagangan internasional sejak 1900-an. L/C terus memainkan peran penting dalam perdagangan dunia saat ini. Bagi perusahaan yang ingin memasuki pasar internasional, Letters of Credit merupakan mekanisme pembayaran penting yang membantu menghilangkan risiko tertentu.

Proses pembukaan L/C tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Importir akan meminta Opening Bank (Bank Devisa) untuk membuka Letter of Credit sebagai jaminan dan dana yang akan digunakan untuk melakukan pembayaran kepada Eksportir sesuai dengan kesepakatan pada sales contract. L/C yang dibuka adalah untuk dan atas nama eksportir atau orang atau badan lain yang ditunjuk eksportir sesuai dengan syarat pembayaran pada sales contract.
  2. Opening bank akan melakukan pembukaan L/C melalui bank korespondennya di Negara Eksportir, dalam hal ini adalah advising Bank. Proses pembukaan L/C ini dilakukan melalui media elektronik, sedangkan penegasan dalam bentuk tertulisnya akan dituangkan dalam L/C confirmation yang diteruskan dari opening Bank kepada advising Bank untuk disampaikan kepada Eksportir
  3. Advising Bank akan memeriksa keabsahan pembukaan L/C dari opening Bank, dan apabila sesuai advising Bank akan mengirimkan surat pengantar (L/C advice) kepada Eksportir yang berhak menerima. Jika advising Bank diminta juga oleh opening Bank untuk menjamin pembayaran atas L/C tersebut, maka advising Bank disebut juga sebagai confirming Bank.
Contoh Form Permohononan LC page 1 of 2

Contoh Form Permohononan LC page 2 of 2

5.10.2016

Sales Contract Process

Sales contract adalah dokumen/surat persetujuan antara penjual dan pembeli yang merupakan follow-up dari purchase order yang diminta importer. Isinya mengenai syarat-syarat pembayaran barang yang akan dijual, seperti harga, mutu, jumlah, cara pengangkutan, pembayaran asuransi dan sebagainya. Kontrak ini merupakan dasar bagi pembeli untuk mengisi aplikasi pembukaan L/C kepada Bank.



a. Promosi
Kegiatan promosi komoditas yang akan diekspor melalui media promosi seperti iklan di media elektronik, majalah, Koran, pameran dagang atau melalui badan/lembaga yang berhubungan dengan kegiatan promosi ekspor seperti Ditjen PEN, Kamar Dagang dan Industri, Atase perdagangan dan lain sebagainya

b. Inquiry
Pengiriman surat permintaan suatu komoditas tertentu oleh Importir kepada eksportir (letter of inquiry). Biasanya berisi deskripsi barang, mutu, harga dan waktu pengiriman

c. Offer Sheet
Permintaan Importir akan ditanggapi melalui offer sheet yang dikirimkan eksportir. Offer sheet ini berisikan keterangan sesuai permintaan Importir mengenai deskripsi barang, mutu, harga dan waktu pengiriman. Selain itu pada offer sheet ini biasanya ditambahkan tentang ketentuan pembayaran dan pengiriman sample/brochure

d. Order Sheet
Setelah mendapatkan penawaran dari eksportir dan mempelajarinya, jika setuju maka Importir akan mengirimkan surat pesanan dalam bentuk order sheet (purchase order) kepada eksportir

e. Sale’s Contract
Sesuai dengan data dari order sheet maka selanjutnya eksportir akan menyiapkan surat kontrak jual beli (sale’s contract) yang ditambah dengan keterangan force majeur clause dan inspection clause. Sales contract ini ditandatangani oleh eksportir dan dikirimkan sebanyak dua rangkap kepada Importir

f. Sale’s Confirmation
Sales contract akan dipelajari oleh Importir, apabila Importir setuju maka sales contract tersebut akan ditandatangi oleh Importir untuk kemudian dikembalikan kepada eksportir sebagai sales confirmation. Sedangkan satu copy lain dari sales contract ini akan disimpan oleh Importir




Sumber: Tahapan Utama dalam Ekspor